Pandanrejo Ikuti Gelar Festival Olahraga Tradisional di Kota Batu

 

1-A-permainan-tradisional-696x464

Animo masyarakat Kota Batu melestarikan olahraga dan permainan tradisional patut di acungi jempol. Hal itu terlihat dari antusiasisme peserta yang mengikuti event gelaran dinas pendidikan ( DISDIK ) Kota Batu di Kecamatan Bumiaji. Kota Batu kemarin (7/4). Salah satu event yang mengikuti gelar festival olahraga tradisional dari berbagai kecamatan batu adalah pandanrejo

Berbagai olahraga tradisional dilombakan dalam event yang dihelat Bidang Pemuda dan Olahraga Disdik Kota Batu tersebut. Mulai dari pencak silat, tarik tambang, senam rekreasi, tari satrio pranggo, pertunjukan pering geprak (bambo geprak), dan berbagai permainan rekreatif lainnya. Antusias warga dalam festival ini pun cukup tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Mistin mengatakan, beragam olahraga dan permainan rekreatif tersebut sudah menjadi bagian dari kesenian dan budaya masyarakat. Dia menyebut, gelaran festival ini sudah memasuki tahun kedua. Yang membedakan, tahun ini dikemas lebih baik dengan adanya tahapan seleksi bagi peserta yang akan tampil.

Dikatakannya, olahraga dan permainan tradisonal tersebut sudah biasa dimainkan di tengah masyarakat. ”Karena selama ini cukup banyak (masyarakat yang memainkan), kami adakan ini (lomba) agar mereka bisa berkompetisi,” ungkapnya.  Pesertanya pun mewakili kelompok dan desa masing-masing. ”Di Kecamatan Bumiaji ada empat desa yang ikut serta,”. Salah satunya desa pandanrejo

Dengan seleksi, adanya Gelar Festival Olahraga Tradisional di Kota Batu ini semoga desa Pandanrejo atau masyarakat yang mewakili desa tersebut bisa tampil kembali dan juga bisa menjadikan juara tingkat pertama yang bisa mewakili Kota Batu di tingkat kecamatan maupun Provinsi

Berikut Gambar Kegiatan saat mengikuti Gelar Festival Olahraga Tradisional di Kota Batu

 

 

WARGA DESA PANDANREJO MENGHIASI RUMAHNYA DENGAN TEMA ICON STROWBERI SEBAGAI PENARIK WISATAWAN

Kampung-Stroberi-2

         Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu menjadi salah satu tempat wisata petik strowberi yang sudah berjalan kurang lebih 7 tahun “kebun strowberi” yang ditanam di tiga lokasi menjadi tempat wisata yang menjanjikan para pengunjung petik strowberi. Wisata tersebut lebih di dominasi oleh anak anak sekolah, namun tempat wisata ini tidak ada batasan khusus untuk pengunjung

    Tidak hanya sebagai sarana petik strowberi para pengunjung dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana cara menanam atau mengenal ciri ciri buah strowberi yang siap dipetik, dan memetik strowberi juga.

 Abdul-Manan-3

      Pak Abdul Manan selaku kepala desa Pandanrejo mengatakan, “Desa Wisata Petik Strowberi Pandanrejo sudah berjalan itu setiap harinya ada pengunjung rombongan besar atau keluarga ” apalagi saat hari sabtu dan minggu

     Dampak menaiknya pengunjung wisata petik strowberi desa pandanrejo dirasakan oleh bapak nursaid. Wisata petik strowberi desa pandanrejo menjadi daya tarik tersendiri dan peluang untuk kota wisata batu semakin berkembang dengan adanya wisata petik strowberi di desa pandanrejo dengan adanya wisata tersebut, warga desa pandanrejo bergotong royong dan melukis setiap rumah dengan icon strowberi dan juga pembuatan papan petunjuk arah atau ditempat strategis

    Dengan adanya kegiatan tersebut saran dari pak hari selaku anggota kepengurusan kim satelit pandanrejo dengan melakukan kegiatan pengecatan icon strowberi disetiap rumah warga bertujuan :

  1. Bertujuan desa pandanrejo menjadi sentral petik strowberi di kota batu
  2. Menarik wisatawan biar mau berkunjung ke wisata strowberidi desa pandanrejo
  3. memperkenalkan potensi dan unggulan desa pandanrejo
  4. meningkatkan inkom pendapatan pertanian strowberi di desa pandanrejo.

Kegiatan masyarakat desa pandanrejo saat menghiasi rumah dengan icon strowberi

 

2018-03-16 17.44.32

 

 

 

Sejarah Kota Batu

Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.

Pada waktu pemerintahan Kerajaan Medangdi bawah Raja Sindok, seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah oleh Raja untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti.

Atas persetujuan Raja Sindok, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangun sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Di tempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari Kerajaan Medang.

Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang konon katanya bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang dahsyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi sumber air panas, dan sumber air panas itu sampai sekarang menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Wilayah Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di lereng pegunungan dengan ketinggian 700 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut, berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama “Batu” mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.

Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.

Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau Batu sebagai sebutan yang digunakan untuk sebuah kota dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah keberadaan Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babad alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu, sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari wilayah Jawa Tengah.

Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah ke kaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni).

Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.

Awalnya mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas, namun akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.

HARI JADI KOTA BATU

Kota Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang, yang kemudian ditetapkan menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Batu ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Batu dikenal sebagai salah satu kota wisata terkemuka di Indonesia karena potensi keindahan alam yang luar biasa.